[FAN FICTION] Flower Power by Rizky Ho

Bingung mau ngisi blog apaan lagi, ya udah, gue sekarang mau ngepost FF gue yang pernah gue ikutin lomba salah satu fanbase di Twitter dan FF ini berhasil lolos untuk dibukukan. Cuman, gak ada pernah ada kabar lagi mengenai projek itu. Gue pernah nanya ke itu fanbase, katanya si admin yang ngurus ini projek udah ngundurin diri. What? Dasar ya gak bertanggung jawab. Ya sudahlah daripada gue pendem di dalem folder laptop mending gue posting aja.

FF ini tokohnya bias gue di SNSD: Tiffany

Tokoh si aku nya? Ya jelas gue hahaha

langsung aja deh nih ya…

 

Flower Power 

oleh Rizky Ho

Kalau bisa memilih, aku lebih memilih diciptakan untuk menjadi bunga dari pada manusia……………

 

            Saat aku datang pertama kali ke tempat ini, aku mendapat tugas untuk merawat seorang gadis yang manis. Menggantikan Dokter Kim yang telah merawat gadis itu dari semenjak lahir. Hospital Princess, begitulah panggilan pasien lain terhadap gadis itu. Bukan karena gadis itu memenangkan sebuah kontes kecantikan rumah sakit, melainkan gadis tersebut adalah penghuni terlama di rumah sakit ini. Ayahnya adalah pemilik rumah sakit terbesar di Seoul ini. Gadis itu boleh saja bangga terhadap apa yang ayahnya miliki. Mempunyai rumah sakit dan menjadi seorang jutawan, tapi tidak berlaku baginya. Karena gadis itu juga hanya sebatas pasien di tempat ini.

            Gadis yang aku ceritakan itu bernama Hwang Mi Young, anak satu-satunya Dokter Hwang. Panggil saja Miyoung. Menurutku Miyoung masuk kedalam tipe gadis pendiam, polos, dan periang. Hanya saja di balik sifatnya yang periang itu selalu ada kesedihan dalam dirinya, yaitu harapan hidup. Suatu penyakit darah yang terus menggerogoti tubuhnya sudah bersemayam sejak dirinya terlahir ke dunia ini. Tapi dengan harapan hidup itu lah aku bisa mengenal Miyoung baik secara pribadi maupun psikis dalam dirinya. Dan sampai saat ini dengan segala pendirianku, aku akan terus mempertahankan harapan hidupnya sampai kapan pun. Aku berjanji, bukan karena aku seorang Dokter dan Miyoung sebagai pasien atau seorang anak dari pemilik rumah sakit ini. Tapi karena aku memang benar mencintainya. Dia adalah gadis idamanku.

            Aku mulai jatuh cinta kepadanya saat pertama kali aku memperhatikannya sedang menggeluti hobinya melukis di dalam sebuah rumah kaca yang terletak di samping rumah sakit. Menurutku lukisan hasil karya tangan berbakatnya itu bernilai harga jual tinggi, aku lihat saat tumpukan lukisan itu diletakkan olehnya di samping lemari besi kamarnya.  Tapi, ada satu hal yang membuatku mengerutkan dahi. Miyoung hanya melukis bunga!

            Bunga menjadi sesuatu yang baru aku ketahui tentang Miyoung, karena itu setiap aku memeriksa kondisinya aku selalu meletakkan seikat bunga mawar putih di sampingnya saat dia tertidur pulas. Dia pernah menanyakan tentang bunga itu padaku, tapi aku hanya bisa membantahnya. Aku bilang saja bahwa kiriman itu mungkin dari seorang pasien lain yang mengidolakannya. Dia bilang itu konyol.

            Sampai akhirnya apa yang selalu aku lakukan itu ia ketahui juga, saat itu dia hanya berpura-pura tertidur. Entah apa yang harus aku lakukan, kala itu aku benar-benar terpaku dibuatnya. Sejak kejadian itu ada yang sedikit berubah dari diri Miyoung  setiap aku melihat kondisinya atau ketika mengantarkannya ke ruang kemoterapi.

Saat aku mengantarnya ke sebuah taman yang ada di belakang rumah sakit, aku pernah menyatakan perasaanku padanya. Mungkin ini adalah sebuah tindakan bodoh, dokter berpacaran dengan pasien. Tapi aku pikir tidak, karena dengan ini lah aku bisa menjauh dari suster-suster genit yang selalu menghampiriku setiap saat. Saat aku menyatakannya, Miyoung terlihat seperti kedatangan petir yang menyambar secara tiba-tiba. Aku mengajaknya untuk duduk di sebuah kursi dekat taman, aku meyakinkan padanya. Tapi sepertinya tidak ada respon yang baik sedikit pun yang akan aku terima darinya. Miyoung masih terdiam, aku mencoba menyadarkan dari lamunannya. Dia menatapku dengan matanya yang kilap. Mulut pasinya sedikit demi sedikit bergerak dan berbicara, aku tahu hal ini sangatlah sulit baginya.

Bukannya aku tidak mau, hanya saja apa aku pantas menjadi seorang wanita yang bersandang denganmu, Dokter? Apa Dokter tidak malu kalau saja Dokter berjalan dengan seorang gadis kurus, berkulit pucat hantu dan rambutnya yang semakin hari semakin menipis yang suatu saat nanti rambut ini akan habis? Aku sungguh tidak pantas. Apa Dokter tidak pernah berpikir bahwa umurku ini sebentar lagi hilang kemudian aku mati dan meninggalkan segala-galanya? Termasuk Dokter…..

Air mataku turun begitu saja melewati kelopak mata dan pipiku. Bukan karena susah meyakinkan Miyoung akan cintaku. Tapi karena Tuhan! Mengapa Tuhan menciptakan Miyoung dengan keadaan seperti ini? Kalau aku menjadi dirinya, akan kuhabisi saja diriku sendiri.

Satu tahun berlalu, musim semi kembali datang lagi. Musim yang paling dicintai Miyoung, yang aku tahu. Katanya musim semi adalah musim dimana bunga-bunga kesukaannya tumbuh cantik mengelilingi rumah sakit. Tapi keadaan Miyoung saat ini tidak secantik bunga-bunga yang saling bersenandung menyambut bumi di luaran sana. Tubuh kurusnya semakin jelas terlihat, seperti tubuh tanpa berdaging hanya berkulit. Rambut yang selama ini menjadi mahkotanya sudah hilang semua dari atas kepalanya, wajahnya selalu terlihat pucat meskipun dia sedang berbahagia karena seluruh keluarganya terlihat berkumpul merayakan ulang tahunnya.

Tapi dengan tubuhnya yang seperti ini, aku tetap seperti dulu. Mencintainya dengan sepenuh hati, Miyoung pun dalam setahun ini masih meneruskan hobinya itu. Melukis.

Aku coba hitung semua lukisan yang tersusun rapi di samping lemari besi kamarnya, sudah ada tiga puluh! Suatu saat ketika dia sedang duduk manis di dalam rumah kaca, dan tangan kanannya memegang kuas yang terus ia goreskan kehadapan kain kanvas yang berdiri tegak di hadapannya aku menghampirinya dan menanyakan rasa kepenasaranku tentang kecintaannya terhadap bunga.

Kau lihat dandelion itu? Menurutmu cantik bukan? Apa yang kau pikirkan, sama dengan apa yang aku pikirkan. Aku ingin seperti bunga, alangkah bahagianya menjadi bunga. Indah, cantik dan segar…… Tidak seperti diriku yang tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan bunga. Aku pikir bunga lah yang terus memberi aku harapan hidup, dan memberikan kekuatan agar aku bisa cantik seperti bunga. Kalau bisa memilih, aku lebih memilih diciptakan untuk menjadi bunga dari pada manusia…….

Saat itu aku hanya bisa mengatakan kalau Miyoung pun tak kalah cantik dengan bunga. Dia hanya tersenyum saja mendengar itu.

Dan satu lagi, bunga dan aku mempunyai kesamaan. Mempunyai umur pendek. Kau tahu itu? Bunga akan mati kala musim panas digantikan dengan musim gugur. Mungkin…..

Aku segera memberhentikannya, aku coba bantu untuk membereskan semua benda yang ada di sekelilingnya, palet, cat minyak, kuas serta lukisannya. Matahari sudah berada di barat, saatnya Miyoung kembali ke kamarnya dan berharap menarik ucapannya tadi. Kau tidak akan mati secepat itu!

            Miyoung pernah berkata dia ingin mengadakan sebuah pameran lukisan miliknya di rumah sakit ini. Tepat ketika saat lilin kue ulang tahunnya ditiup. Dan hari itu, sepakat pihak rumah sakit berencana untuk mengadakan sebuah pameran lukisan bunga karya pasien terlama di rumah sakit ini. Saat itu aku segera membereskan lukisan-lukisan Miyoung dan berniat untuk memindahkannya ke ruanganku. Aku sedikit kewalahan dibuatnya, saking banyaknya aku memasukannya satu persatu saja kedalam kantong plastik besar. Dan saat itu mataku terbelalak ketika dari sekian lukisan bunga itu, ada satu lukisan yang objeknya bukan bunga. Melainkan siluet seorang pria, dan aku kenal betul siapa pria tersebut dari penggambaran rahang, hidung serta rambutnya. Aku yakin, lukisan siluet itu adalah aku.

            Saat aku keluar untuk memindahkan semua lukisan yang aku bawa, sedikit aku menoleh Miyoung yang sedang tertidur dengan selimut menutupi sampai dadanya. Saat itu juga, aku menjatuhkan semua apa yang aku pegang. Aku tahu itu. Miyoung tertidur pulas, tapi tertidur untuk selamanya.

            Aku tak kuasa menahan air mata yang terus membasahi wajahku. Bukan hanya saja aku, tapi seluruh isi rumah sakit sedang berkabung mendengar berita menyedihkan seperti ini. Sedangkan di luar sana, langit ikut menghampaskan angin serta gemuruh akan datangnya hujan. Dedaunan kering ramai menutupi jalan. Musim gugur pun akhirnya tiba.

 

-SELESAI-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s