[CERPEN] TIDUNG ISLOVE by RIZKY HO

pulau-tidung

(Gambar diambil dari http://www.utiket.com/id/obyek-wisata/jakarta/58-pulau_tidung.html)

Gue gak tau harus ngapain dulu buat mulai lagi blogging, sumpah kewalahan ngalor-ngidul WordPress sama Blogger yang tampilannya sekarang rada ngebingungin buat gue. Alhasil, berhasil juga pindah blog yang dulu ke sini.

Oke, buat postingan pertama gue post cerpen aja kali ya. Sebenernya ini cerpen udah lama, tahun lalu deh. Cerpen ini pernah ikut lomba Cerita Cinta Kota yang diadain penerbit Plot Point. Sayang, gak masuk big 10 cerpen yang bakal diterbitin hahaha

Intinya gue dapet inspirasi nulis cerpen ini, ya, waktu school trip gitulah ke Pulau Tidung.

Ah, gue gatau harus ngapain lagi, bingung.

Langsung aja boleh dibaca! Kalo bisa komen dong yang ganteng yang cantik…

TIDUNG ISLOVE

          Sejenak aku memicingkan mata untuk melihat hamparan laut yang sedikit berombak, sudah satu jam aku duduk di sebuah kapal kayu yang membuat perutku seakan ingin mengeluarkan seluruh isinya. Aku mual, mabuk laut. Entah kenapa aku sangat tidak bersahabat sekali dengan yang namanya laut.

Rizal yang dari tadi bergelut dengan gadget barunya mencoba menenangkanku, aku menilik kearahnya dengan tatapan nanar. Belum saja memulai liburan tapi aku sendiri tidak bisa diajak berkompromi dengan keadaan. Sedangkan Nia, teman kantorku yang sudah aku anggap sebagai sahabatku dari tadi tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali, rupanya ia tengah asyik bersua dengan angin di bagian kapal paling depan. Kalau dia jatuh ke laut, aku tak akan sungkan mentertawakannya.

Aku, Rizal dan Nia berniat untuk menghabiskan liburan akhir tahun ke sebuah pulau di utara Jakarta ini. Hitung-hitung membuang semua kejenuhan kantor yang sudah menempel seperti karang gigi. Bukan aku sih yang berniat untuk menghabiskan liburan akhir tahun di pulau itu, tapi mereka berdua yang memaksaku untuk ikut dengan mereka. Aku tak pernah paham dengan pikiran mereka, yang ada di pikiranku menikmati tahun baru itu ya di kota. Menikmati hiruk pikuk kebersamaan menyambut tahun baru bersama warga kota lainnya, kalau pun terpaksa untuk memilih pantai kenapa mereka berdua tidak memilih Bali atau Lombok? Aku hanya bisa menyerah saja, apalagi hasutan Nia yang begitu merdu terdengar menembus gendang telinga yang kemudian masuk kedalam seluruh tubuhku, menawariku betapa indahnya pulau itu. Aku hanya mengangguk saja. Katanya sih pulau itu tidak kalah dengan Bali atau Lombok! Bahkan saat ini banyak agen travel yang menawarkan paket liburan yang menggiurkan dari wisata pulau itu. Pulau Tidung namanya.

Laju kapal mulai sedikit berkurang, mengambang. Pulau yang akan kami tinggali akhir tahun ini sudah terlihat jelas di depan mata. Sementara kapal mencoba berlabuh, Rizal mencoba untuk membangunkanku dan membawakan semua perlengkapan yang kami bawa. Perhatian sekali dia. Nia berlari kecil dari arah depan menghampiri kami berdua, seolah dia tidak takut dengan lantai kapal yang bergoyang.

Setelah kapal benar-benar berhenti, kami bertiga keluar tak lupa meninggalkan pelampung berwarna jingga yang telah kami kenakan semenjak dari Muara Angke. Cuaca hari ini sangat terik sekali, aku mencoba berteduh di sebuah atap kayu sedangkan Nia sibuk dengan puff  Etude-nya dan terus membubuhkan bedak yang senada ke semua wajahnya di bawah pohon rindang sana. Masih sempatnya si Nia! Sementara Rizal dari tadi aku lihat terus mengarahkan ponselnya ke arah langit.

“Yu, hape kamu ada sinyalnya?” tanya Rizal yang kemudian menghampiriku.

“Hape aku kan lowbat, Zal. Emangnya ada apa?” tanya balikku.

“Aku gak dapet sinyal, Yu” lalu Rizal menoleh ke arah Nia yang sedang asyik bersolek, rupanya jawabannya sama denganku. Nia terlihat menggeleng.

Baru saja yang namanya liburan bakal kita nikmati, malah satu kesialan yang begitu saja menghampiri. Kami bertiga masih diam di pelabuhan, sedangkan ponsel yang harus kami butuhkan saat itu juga tidak berguna sama sekali. Rizal sudah bilang kepada pemilik homestay kalau saja kita telah sampai dia akan memberitahu pihak homestay tersebut. Tapi bagaimana caranya kami bisa menghubungi seperti apa yang telah direncanakan?

Ini sangat terpaksa. Kami bertiga langsung menanyakan satu persatu kepada warga sekitar yang sedang berlalu lalang, dan para ibu-ibu yang sedang selonjoran di sebuah dipan warung kecil dekat pelabuhan.

“Permisi, Bu. Kita lagi nyari homestay nama homestay-nya Dirga Homestay. Ibu tahu dimana?” tanya Rizal begitu masuk bergabung dengan kerumuan ibu-ibu.

“Oh, tau lah. Itu kan yang punya dokter ganteng!” jawab seorang ibu yang memakai jilbab toska dengan logat Kalimantannya.

“Dokter ganteng?”

“Iya, kalau mau cari dokter Dirga ke puskesmas kelurahan aja. Biasanya jam segini dia masih ada di puskesmas” seorang ibu berpostur gemuk menambahkan.

Kami bertiga langsung saja menyusuri gang-gang besar di pulau kecil ini. Bisa dikatakan kalau di pulau ini tidak ada yang namanya jalan raya dan tentunya tidak ada benda yang bernama mobil. Ternyata puskesmas yang dibicarakan tadi tidak jauh dari tempat kami menginjakan kaki pertamanya di pulau ini. Langsung saja kami pun masuk ke dalam gedung besar yang berarsitektur modern tersebut, kontras sekali dengan rumah-rumah penduduk yang ada di sekitarnya.

Belum saja kami melangkahkan anak tangga yang menghubungkan ke dalam puskesmas tersebut, seorang pria jangkung dengan senyuman manisnya keluar dari pintu kaca. Dan benar saja, pria yang sekarang berdiri di hadapanku ini adalah pemilik homestay yang akan kami bertiga tempati. Dokter Dirga namanya.

Begitu kami bercengkrama, akhirnya Dokter Dirga mengantarkan kami tidak jauh dari puskesmas itu berada. Tapi menurutku ini jauh sekali.

“Nah ini rumah saya, silahkan” ucap Dokter Dirga ketika kita berempat sampai di sebuah rumah bernuansa hijau dengan lapangan kecil sebagai halamannya dan juga pantai! Ya, homestay yang kami tempati ini menghadap langsung pantai di bagian barat pulau. Pintar sekali si Rizal memilih tempat!

“Oh iya, ini kuncinya terus perlengkapan snorkling dan lainnya sudah ada di dalem rumah” ujar dokter yang kelihatannya masih muda itu “Terus itu sepedanya” tunjuk Dokter Dirga ke arah tiga buah sepeda berwarna merah muda yang berderet rapi di samping tembok rumah. Beruntung sekali, sebab menyewa homestay ini sudah satu paket dengan snorkling, sewa sepeda, banana boat bisa juga sofa boat atau donut. Tidak termasuk makan.

“Terus dokter tinggal di mana kalo ini rumah dokter?” celetuk Nia, genit.

“Oh kalau soal itu, saya bisa nginep di puskesmas. Tenang kok, masalah barang-barang saya sudah saya singkirkan sebelumnya” jawab Dokter Dirga manis.

Uniknya, di pulau ini tidak ada yang namanya resort, hotel atau tempat penginapan mewah lainnya. Hanya homestay ini lah yang menjadi salah satu penyokong sektor pariwisata pulau ini. Begitu kami menerima kunci, kami pun langsung menghambur masuk ke dalam rumah dan berebut kamar. Aku dan Nia, mau tak mau Rizal sendiri dong! Dia kan pria.

***

Masih ada banyak sisa hari liburan di pulau ini, masalah biaya jangan takut. Semua biaya ditanggung Rizal, rupanya dia ingin mentraktir aku dan Nia. Hitung-hitung syukuran ulang tahunnya bulan kemarin, katanya.

Malamnya saat Nia dan Rizal keluar mencari makan, keadaan perutku semakin melilit. Untuk urusan haid baru saja dua hari yang lalu haidku beres. Ah manja sekali perutku ini! Aku keluar rumah dan bertanya pada rumah yang ada di depan apakah ada warung yang jual obat atau tidak. Tapi orang tersebut menyarankanku untuk ke puskesmas, karena selain gratis masyarakat Pulau Tidung pun sudah tidak asing dengan satu-satunya puskesmas yang ada di pulau ini.

“Wah…mbak harusnya bersyukur kalau sakit. Konsultasi ke puskesmas, ketemu deh sama dokter ganteng” celetuk wanita berdaster itu. Sialan! Apa semua orang yang tinggal di pulau ini senang kalau dirinya sakit? Sakit karena bisa bertemu dengan dokter itu. Dokter Dirga.

Mau tak mau aku langsung mengeluarkan sepeda bernomor 06 dengan tulisan “DIRGA” diatasnya. Langsung saja tanpa basa-basi sepeda yang aku kendarai meluncur menuju sang pemilik sepeda. Demi sebutir pil obat maag.

“Lho, ada apa mbak? Rumahnya gak nyaman?” tanya Dokter Dirga memburu ketika aku sampai di tempatnya.

“Bukan, dok. Kayaknya maag aku kambuh, saya kesini mau minta obat. Satu aja” balasku seraya masih mencengkram perut. Dokter itu langsung saja menggiringku masuk ke dalam ruang prakteknya. Ah! Aku kan cuman minta obat!

“Ini….” Dokter Dirga kembali ketika sebelumnya sibuk mencari sesuatu di dalam laci. Dan mengasongkan satu strip obat yang tidak asing dalam hidupku serta segelas air putih.

“Makasih”

“Lain kali mau liburan makan dulu, jangan andalkan terus makanan ringan!” ujar Dokter Dirga seraya duduk di atas kursi hitamnnya. Benar saja! Aku baru ingat ternyata aku belum makan nasi sesuap pun, yang dimakan hanya bungkusan coklat dan keripik kentang yang aku bawa dari Bandung. Aku hanya mengangguk, tak berani menatap wajahnya secara langsung. Benar saja apa yang dikatakan orang!

“Makasih, dok. Aku pulang dulu…”

“Jangan lupa ya.. lunasi obat itu” tukas Dokter Dirga yang membuat wajahku menoleh kembali, akan ku habisi wanita berdaster itu! Dia bilang gratis, tapi…

“Bu…kannya gratis ya dok? Aku kesini buru-buru gak bawa uang, terus kata ibu-ibu tadi katanya gratis..” aku masih tak yakin. Ah ini yang namanya malu, Ayu!

Dokter itu malah tertawa yang membuat aku kelabakan bingung.

“Saya cuman bercanda, mbak. Silahkan itu semua gratis kok! Hitung-hitung satu paket sama homestay saya hehe”

Sialan! Ada dokter yang seperti dia ya…

Belum saja keluar dari tempat itu, Rizal dengan kantong plastik hitam di tangannya begitu saja masuk dengan napas yang terengah-engah.

“Kamu gak kenapa-napa, Yu? Kamu sakit? Kenapa kamu gak bilang kalo kamu sakit?” tanya Rizal memborbardir, mau menjawab pun rasanya sulit. Cerewet sekali pria ini.

“Engga kok kayaknya maag aku kambuh, Zal” balasku singkat. Sementara ketika keluar ruangan, Nia sudah berdiri saja di sana. Wajahnya terlihat kuatir. Ah maaf! Memang aku selalu begini. Menyusahkan.

Begitu pulang aku susah tidur, sementara Nia terlihat sudah ngorok duluan. Rizal masih di ruang tengah asyik menonton pertandingan Liga Inggris kesayangannya. Aku terus berusaha mencari segala sesuatu yang bisa membuatku tidur. Sebuah foto berukuran 3×4 tergeletak di bawah ranjang mengalihkan pandanganku. Foto itu lah yang akhirnya mampu mengantarkanku pada sebuah alam yang entah dimana keberadaannya. Bukan alam ghaib!

***

Sebelum matahari terbit, Nia bersikukuh ingin melihat sunrise di pantai. Aku memberontak sedikit, dia menghancurkan mimpi indahku!

“Kamu keluar rumah saja udah langsung ketemu pantai, Nia” aku mencoba berusaha agar tidak ikut keinginannya. Aku tidak terbiasa! Dingin!

“Kalo sunrise liat di sini gak akan keliatan, Yu. Sekarang aku tanya matahari terbit dari sebelah mana?”

“Timur”

“Nah, kamu tahu sendiri Yu, pantai di depan rumah ini ngadepnya ke utara. Mana bisa liat sunrise, AYU AZHARI!” Nia masih ngeyel membangunkanku dan melepaskan guling yang sedang aku peluk.

“AYU PRAMITHA HAPSARI!”

“Ya apalah, mau Ayu Ting-Ting kek Ayu Teng-Teng kek yang penting kamu kudu bangun!” kebiasaan Nia masih belum hilang. Dia tipe orang pemaksa.

“Kamu bisa sama Rizal kan, sekalian PDKT sana!”

“Ini kan liburan kita, Yu. Masa kamu gitu sih. Gak asyik!” sepertinya aku harus mengalah kepada wanita yang satu ini. “Satu lagi aku kan gak suka sama Rizal bukannya Rizal yang suka sama kamu, Yu?” tambahnya membuat aku bangun seketika.

“Apa?”

“Eh engga deng! Nah kamu udah bangun sekarang cepet siap-siap, keburu mataharinya nongol duluan!”
Memang Nia lah yang pintar membujuk, kalau saja aku ikut pemilihan presiden sudah aku paksa dia menjadi ketua kampanye!

***

Setelah lebih dari satu kilometer mengayuh sepeda, akhirnya kami bertiga tiba di sebuah pantai yang masih gelap. Pantai ini ada di ujung pulau yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dengan Pulau Tidung Kecil. Matahari belum bangun, apa perlu aku bangunkan?

Riuk air laut terdengar jelas, aku sendiri memisahkan diri dari Nia dan Rizal yang sedang duduk di atas pasir pantai. Ada sebuah jembatan dengan lampu-lampu kecil di ujung sana. Aku naik ke atasnya, dari atas aku bisa melihat jelas laut dangkal yang ada di bawah jembatan ini. Seperti dalam film Titanic! Seseorang mengagetkanku saat itu, bukan Nia dan Rizal melainkan dokter itu! Apa dia membuntutiku? “Eh, Dokter” aku mencoba menyapa.

“Kamu baru pertama kali kesini?” tanyanya seraya menutup lensa SLR yang ia gantungkan di lehernya.

“Iya, dok” balasku singkat.

“Panggil saja saya Dirga, kalo saya pake seragam baru mbak boleh panggil saya dokter hehe”

“Kalo begitu panggil saya Ayu,  jangan mbak. Saya kan masih muda dan satu lagi saya bukan orang Jawa dok… eh Dirga” tukasku yang membuat Dirga terkekeh saat itu juga.

“Saya juga masih muda kok, Yu”

“Gak nanya tuh”

“Kamu bisa aja, Yu”

Aku tertawa kecil, rasanya pembalasan tadi malam lunas sudah.

“Oh iya, kita belum kenalan. Kenalin aku Dirga Setyahadi, aku baru dua tahun di pulau ini. Aku asli dari Palembang, dateng kesini karena tugas” ujar pria jangkung itu yang mengarahkan tangan kanannya ke hadapanku. Aku sontak tergerak.

“Curhat?” dia malah tertawa “Aku Ayu Pramitha Hapsari, baru dua hari di pulau ini. Dan aku asli dari Bandung, dateng kesini karena takdir Tuhan” balasku yang mencoba seperti apa yang dikatakan Dirga. “Liburan deng! Dan itu terpaksa….”

“Kamu cocok  jadi pelawak, Yu!”

“Heh…”

Dari jauh terlihat jelas sinar matahari mulai menampakkan diri, Dirga langsung menyalakan kamera yang menggantung di lehernya. Sedangkan aku hanya diam dan menikmati angin yang berhembus serta cahaya hangat yang lama kelamaan menyentuh bagian-bagian dari tubuhku. Aku baru merasakan hal seperti ini.

“Aku setiap subuh ke jembatan ini sekadar buat foto sunrise doang, jembatan ini sama penduduk pulau dinamain Jembatan Cinta. Jadi jangan pikir tadi aku ngebuntutin kamu ya, Yu” ucap Dirga mulus begitu saja. Aku terperanjat. Pede amat sih ini cowok, huh!

Suara Nia jelas menusuk gendang telingaku, dia mencoba menaiki pundak-pundak tangga dan menyusulku. Napasnya memburu.

“Ayuuuuu dari tadi aku cari kamu! Rizal gitu aja ninggalin kita……”

***

Perlengkapan snorkling sudah kami bawa semua, tinggal saatnya meluncur untuk menikmati pemandangan karang-karang laut dan juga ikan-ikan para penghuni laut dangkal pulau ini. Aku lihat Rizal seperti yang sedang sakit, dari tadi rasanya dia hanya diam saja.

“Zal, kamu enggak apa-apa? Kamu sakit?” Aku coba menghampirinya dan menempelkan telapak tanganku ke jidat wajahnya yang sangat luas.

“Engga kok, aku keliatan sakit ya?” dia malah balik bertanya.

“Iya, Zal. Kalo kamu sakit snorkling nya bisa diundur besok kok.. toh aku sama Nia gak enak sama kamu. Kamu kan yang bayarin ini semua” Nia ikut mengiyakan perkataanku.

“Aku sehat kok! Masa badan kek Hulk gini sakit sih….” balasnya yang disambung tawa Nia.

Saat itu Dirga sudah datang, dari awal Dirga yang akan mengantar kita untuk snorkling. Sedangkan untuk masalah puskesmas, ada Dokter Reno yang siap menggantikannya.

“Kalian sudah siap?”

“SUDAH!!” suara Nia yang paling menggelegar bersemangat, sedangkan Rizal seketika diam kembali. Rizal kenapa sih?

***

Hanya aku saja yang belum masuk ke dalam air, aku bergelut dengan rasa ketakutan. Sedangkan Nia, Rizal dan Dirga sudah duluan menyatu dengan hamparan birunya air laut. Sebenarnya lautnya berwarna hijau, karena ini laut dangkal yang banyak karangnya.

“Kamu gak akan tenggelem, Yu” ucap Rizal yang muncul ke permukaan membuka kacamata renang dan selang yang terhubung ke mulutnya.

“Diem Udel…..” balas aku dengan sinis, memang sih disaat keadaan seperti ini hanya itu yang bisa aku lakukan. Maafkan aku Rizal Aditya Putra!

“Bener, Yu. Kamu gak akan tenggelem kok, kan kamu udah pake pelampung” Dirga menambahkan, sedangkan Nia masih asyik menerawang ke bawah laut. Sialan Nia! Apa dia sedang mencari ikan-ikan tampan untuk dijadikan kecengan? Genit amat Nia!

“Sini biar aku bantu turun…” ucap Dirga yang langsung menghampiriku di bibir kapal. Aku relakan saja tubuhku ini ikut turun bersama tangan Dirga. Soal nyawa entahlah.

“Tuh kan kamu enggak tenggelem…” ucap Dirga meyakinkan. Memang sih ternyata aku tidak tenggelam sama sekali! Kampungan sekali aku ini!

Dirasa sudah bersahabat dengan laut, aku mencoba menerawang sendiri. Rizal menarikku ke permukaan untuk berfoto bersama. Dirga yang menjadi juru foto, dia sudah siap dengan kamera kedap airnya. Satu….Dua….Tiga…..Cheese!

“Sekarang foto di bawah air ya….” pinta Nia. Dirga hanya mengangguk mengiyakan.

Sesudah snorkling Dirga mengajak kami untuk merasakan digulingkan ke dalam laut oleh Banana Boat. Hatiku masih ragu untuk ikut, tapi Rizal kekeuh meyakinkanku kalau aku tidak akan tenggelam karena ada pelampung. Aku ikut saja, hitung-hitung pengalaman dalam hidupku.

Sebuah pisang besar muncul dihadapan kami, aku masih tidak begitu yakin untuk naik wahana ini. Apalagi kalau sampai dibawa ke tengah laut! Tidak! Mau tak mau aku harus ikut. Akhirnya kami bertiga naik pisang besar itu. Nia paling depan, aku di tengah, Rizal di belakang. Sedangkan Dirga yang mengemudikan speed boat untuk menarik wahana ini dan menggulingkannya. Jadi takdir ada di tangan Dirga.

Perlahan si pisang  besar ini melaju, melewati jembatan cinta dan kemudian melaju cepat menjauhi pulau. Aku hanya bisa berteriak dan mencengkram tali yang ada di depanku. Nia masih bersorak ria kegirangan seolah hidupnya setelah ini akan dinikahkan dengan aktor Korea. Rizal di belakangku terus meyakinkanku seperti memberi siraman rohani.

Burrrrrr

Dirga membelokkan kemudi tanpa aba-aba terlebih dahulu, aku terpental ke dalam laut yang menghantam wajahku terlebih dahulu. Aku begitu saja tenggelam dan merasakan air asin masuk ke dalam mulutku. Tangan Rizal sontak mencengkram tubuhku dan membawa ke permukaan lalu membantuku untuk naik si pisang besar itu.

“Asyik kan?” tanya Rizal dengan seringai puasnya. Aku hanya terbatuk. Itu baru yang pertama, selanjutnya aku harus lebih siap untuk digulingkan yang kedua kalinya.

***

Setelah mandi, aku dan Nia sengaja berkeliling menggunakan sepeda mencari makanan. Sedangkan Rizal sedang asyik memaikan gitar di bibir pantai. Sore itu aku dan Nia melewati kuburan penduduk yang katanya terdapat sebuah kuburan Raja bernama Raja Pandita, dulunya Raja Pandita dibuang ke Pulau Tidung ini oleh penjajah Belanda dari Kalimantan. Tidung sendiri di ambil dari kata lindung atau tempat berlindung. Bahkan ada yang bilang Tidung sendiri di ambil dari nama suku di Kalimantan, yaitu Suku Tidung. Entahlah, rasanya aku sedikit tidak tertarik dengan sejarah.

Setelah ngalor-ngidul mencari makanan, akhirnya aku dan Nia menemukan sebuah rumah dengan gerobak di halamannya. Aku tidak asing dengan gerobak ini, ya ternyata di sini pun ada yang berjualan fried chicken yang sering dijumpai di depan mini market dekat tempat tinggalku di Bandung. Makanan kesukaanku! Catat itu.

“Bu, ayamnya tiga ya. Dada semua komplit pake nasi” pesan Nia yang langsung kembali duduk di sampingku. Sementara yang jualan memasukan ayam dengan tepung ke dalam penggorengan.

“Mbak lagi liburan ya? Baru liat mbak disini” ucap si ibu tukang jualan. Rasa lapar aku dan Nia berusaha ditahan dan melayani wawancara dadakan ini.

“Iya, bu. Lagi liburan” jawab Nia seadanya. Dia sudah tidak kuat untuk membawa ayam itu dan menyantapnya dengan lahap.

“Asalnya dari mana? Tinggal di homestay mana?” sama cerewetnya dengan Rizal!

“Bandung, bu. Tinggal di homestay dokter Dirga” kali ini aku yang mencoba menjawab.

“Wah, untung banget ya tinggal di rumah dokter ganteng itu….” telingaku seketika peka mendengar ibu itu bicara dan mau mendengarkan apa yang dia katakan. “Kalau dipikir-pikir sih dokter Dirga orang terganteng di pulau ini, Mbak. Sayang katanya sih dua bulan lagi dia bakal nikah sama tunangannya di Palembang” tutur ibu itu, sementara dirinya masih terfokus pada penggorengan yang mengeluarkan hawa panas. Sepanas hatiku saat itu.

Begitu pulang Rizal sedang mandi, aku dan Nia langsung masuk ke kamar .

“Aku tahu kamu suka dokter Dirga, Yu. Tapi tahu kan dia udah mau merit. Sebeneranya aku juga udah tahu sih dokter Dirga udah punya tunangan, makannya aku yang biasanya genit kalo ada cowok cakep tapi buat dokter Dirga engga, Yu” ucap Nia yang begitu polosnya membuka kaos dan menggantinya dengan piyama untuk tidur.

Aku masih terpaku dibuatnya, memang sih ketika pertama kalinya bertemu dengan Dirga siapa yang tidak tahan tersihir dengan pria tampan, jangkung, dokter lagi. Dan aku memang suka Dirga, semenjak berkenalan di atas jembatan aku mengenal dia orang yang periang, penuh dengan candaan, penyayang –sepertinya-. Dan aku benar harus membuang pikiran itu jauh-jauh. Jangan sampai aku jatuh cinta pada Dirga dan sebaliknya.

“Kamu tahu orang yang sebenernya sayang sama kamu, Yu?” tanya Nia. Aku menggeleng. Jujur saja di kantor memang banyak yang mengincarku. Mulai dari OB, rekan satu redaksi bahkan atasan yang statusnya duda beranak empat.

“Orang yang sering kamu panggil Udel, Yu” lantas ucapan dari Nia membuat aku terperanjat. Masa sih? “Sebenernya Rizal udah suka kamu dari dulu, Yu. Kamunya aja yang susah nyadarnya…” Nia melanjutkan “Rizal suka nanya buat cara deketin kamu gimana caranya, nanya kamu sukanya apa, semua tentang kamu deh. Ya kecuali ukuran kamu berapa…” Sialan! Aku tahu memang dekat-dekat ini Rizal sedikit berubah, apalagi semenjak ada Dirga. Rasanya dia cemburu. Sepertinya.

Dulu ketika aku masih satu tempat kuliah dengan Rizal, memang aku menyimpan perasaan kalau aku menyukai Rizal. Tapi entah mengapa perasaan itu hilang ketika seorang wanita dari jurusan lain sering jalan berdua dengannya sampai kelulusan yang membuatku kehilangan segala informasi tentangnya. Tapi pekerjaan mempertemukan aku dan Rizal kembali.

“Ayu, Nia kalian gak laper? Betah amat di dalem” teriak Rizal dari ruang tengah membuat aku dan Nia sontak  terperanjat. Ah! Apa yang tadi kita omongin gak kedengeran kan? Saking asyiknya membicarakan masalah tadi sampai lupa bahwa ayam yang telah aku dan Nia beli dibiarkan begitu saja di atas piring.

***

Malamnya aku benar-benar susah tidur dibuatnya. Sebuah foto yang tidak sengaja aku temukan aku kembalikan ke kolong ranjang. Aku begitu saja keluar ke ruang tengah dan menyalakan TV, terpaksa aku tonton FTV tengah malam yang biasanya tidak pernah aku tonton. Aku terlalu muak dengan kisah cinta yang terlalu dibuat-buat. Sebenarnya sih karena aku belum merasakan cinta yang seperti ada di kisah-kisah memuakkan itu. Alasan!

“Kamu belum tidur, Yu?” Rizal keluar dari kamarnya. Entah kenapa aku menjadi kikuk berdua seperti ini, Nia bangun! Temani aku!

“Belum, Udel” balas singkat aku supaya Rizal tahu kalau aku sedang tidak mau diganggu.

“Kok kamu seneng sih panggil aku udel, emang aku kayak udel ya?”

“Iya”

“Ya sudah deh terserah kamu, aku tidur lagi ya. Jangan kelamaan nonton FTV nya, kalo kamu sampe nangis nanti tetangga nyangkanya ada mbak kunti lagi galau gegara FTV….”

RIZAL!!!!! UDEL!!!!

***

Ini hari kelima aku, Nia dan Rizal berlibur di pulau ini. Sengaja aku tidak bertemu dengan Dirga lagi. Baguslah, bukan kah tugasnya di puskesmas untuk melayani orang yang sakit?

Malam ini malam terakhir di penghujung tahun. Kami bertiga sudah merencanakan tahun baru di pantai sebelah timur. Banyak orang juga yang memenuhi pantai ini, belum lagi sebuah hiburan berupa panggung besar yang dibuat oleh salah satu agen travel yang disewa oleh satu angkatan salah satu SMA di Jakarta.

Masih dua jam lagi menuju tahun yang baru. Kami bertiga memutuskan untuk makan seafood bersama di sebuah warung yang tak jauh dari bibir pantai dahulu. Rizal menyuapiku! Ini baru pertama kalinya dia menyuapiku dengan cara yang seperti itu. Dan aku mau saja dibuatnya.

“Katanya kamu alergi udang, tapi aku suapin dimakan juga tuh” perkataan yang dilontarkan Rizal membuat aku tersendak, diraihnya cepat segelas air teh yang ada dihadapanku “Bilang aja dulu kamu enggak mau diajak aku makan bareng….”

Nia hanya mentertawakanku, aku lempar saja dia dengan selada yang tepat ada di atas piringku.

“Ayu selada ini juga dibeli tau. Kayak yang mau bayar aja….” celoteh Nia yang membuat tanganku gatal untuk melipat wajah Nia menjadi origami berbentuk kapal lalu aku hanyutkan ke laut begitu saja. Aku malu, Nia memang sialan!

***

Beberapa menit lagi pergantian tahun dimulai, kami sengaja berdiri di atas Jembatan Cinta untuk melihat kembang api yang mewarnai langit yang kemudian terpantul indah ke atas hamparan beningnya air laut. Tapi aku baru sadar bahwa Nia menghilang begitu saja, apa dia marah padaku? Ah, mana mungkin Nia gampang marah dengan candaanku! Biasanya kan aku yang marah dengan candaan keterlaluannya.

“Yu, sebenernya hal ini udah lama aku simpen dari dulu…” Rizal membuka percakapan “Aku sayang kamu, Yu. Baru kali ini aku berani nyatain langsung ke kamu…” aku lihat Rizal sedikit gugup, apalagi aku yang lebih gugup darinya. Salah tingkah.

“Kamu mau kan jadi cewek aku, Yu?” pinta Rizal persis seperti yang ada di dalam FTV kemarin yang aku tonton. Aku sulit untuk menjawabnya, sedangkan Rizal masih menatapku dengan penuh pengharapan. Dulu aku sempat suka dengannya, tapi untuk sekarang ini?

“Kamu enggak mau ya?” lanjutnya “Ah, memang kalo dibandingin aku dengan dokter Dirga sih lebih ganteng dokter Dirga..makanya kamu lebih milih cowok itu. Ya sudahlah kalo gitu lupain apa yang aku ucapin tadi, Yu” Ini nih yang aku tidak suka dari si Udel!

“Dulu aku juga pernah suka kamu, Udel. Tapi jadi engga gitu deh pas cewek Uzbek itu nempel terus sama kamu…” aku mencoba basa-basi.

“Terus kalo sekarang, Yu?”

“Ya aku suka kamu lagi UDEL!!!!”

“Bener, Yu?” wajah Rizal riang sekali dibuatnya. Dia langsung memelukku, aku pun tak kuasa membalas pelukannya. “Kamu bener mau jadi cewek aku, Yu?” dia terus meyakinkan. Aku mengangguk dan terus berusaha membuka hati menerima kenyataan baru.

“Udel… mau ngapain kamu?” aku kaget begitu melihat Rizal begitu saja membuka kaosnya dan memperlihatkan tubuh atletisnya. Aku melongok ke sekitar tempat aku berdiri, banyak orang yang memperhatikan aku dan Rizal. Jangan bilang mereka menyangka pria yang ada dihadapanku ini akan membuat sebuah skandal! Rizal tidak menggubris apa yang aku tanyakan, Rizal langsung saja naik pegangan jembatan dan terjun langsung masuk ke dalam air laut di bawah sana sambil meneriakan nama lengkapku. Ayu Pramitha Hapsari.

“Aku sayang kamu Ayu!!” teriak Rizal begitu muncul di permukaan laut. Wajahnya terlihat menggigil. Gila saja! Berani sekali dia melakukan tindakan konyol seperti ini tengah malam.

“Aku juga sayang kamu Udel!” aku mencoba membalas teriakannya, tak peduli apa yang bakal orang-orang bicarakan tentang dua orang gila yang sedang dilanda kasmaran ini. Sementara letupan kembang api terdengar mencoba menantang tingginya langit dan luasnya hamparan laut Jawa. Suara terompet yang orang-orang tiup rasanya seperti memberi ucapan selamat kepadaku, begitu juga dengan suara hatiku yang kian menggebu di tahun yang baru. Pasangan baru.

~SELESAI~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s